
Sebelum bicara soal keterampilan dan jenjang karier, ada fondasi yang perlu dibangun lebih dulu, yaitu karakter. Gagasan itu mewarnai kelas kuliah PT Aretha Medika Utama pada Kamis, 8 Oktober 2026, yang mengangkat dua tema berurutan: Character Building & Professional Ethics serta Employability & Professional Competence. Kelas diisi oleh Prof. Wahyu Widowati selaku Dosen FK-UKM (Guru Besar) dan Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama secara daring melalui Zoom, dan diikuti para peserta magang serta staf Aretha.
Pada sesi pertama, Prof. Wahyu menjelaskan bahwa pembangunan karakter adalah proses berkelanjutan untuk menumbuhkan nilai, etika, dan perilaku yang baik agar seseorang menjadi pribadi yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan profesional. Etika profesional dipahami sebagai prinsip moral dan standar yang memandu perilaku, keputusan, dan tindakan di tempat kerja, dalam penelitian, maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Karakter dan etika dinilai penting karena membangun kepercayaan dan kredibilitas, menciptakan lingkungan kerja yang positif, mendukung pertumbuhan karier, serta mengurangi risiko masalah etika. Dampaknya terlihat pada kinerja dan produktivitas yang lebih baik, kerja sama tim yang lebih kuat, peluang dan pengakuan yang lebih besar, hingga keberhasilan karier jangka panjang.

Peserta kemudian diperkenalkan pada sembilan unsur utama karakter dan etika profesional, yaitu integritas, tanggung jawab, disiplin, kejujuran, komitmen, konsistensi, akuntabilitas, rasa hormat dan empati, serta profesionalisme. Setiap unsur disertai contoh penerapan yang dekat dengan dunia laboratorium dan riset, antara lain menghindari plagiarisme, fabrikasi, dan manipulasi data, melaporkan data apa adanya dan terbuka terhadap keterbatasan penelitian, serta mengikuti SOP laboratorium dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Prof. Wahyu juga memaparkan rangkaian dari karakter menuju kepercayaan, reputasi, peluang, dan akhirnya dampak, dengan pesan bahwa karakter adalah fondasi keberhasilan profesional, etika menuntun pada keputusan yang benar, dan perilaku baik yang konsisten membentuk reputasi yang kuat.

Sesi dilanjutkan dengan tema employability. Prof. Wahyu menjelaskan bahwa employability tidak sebatas kemampuan mendapatkan pekerjaan, tetapi kemampuan membangun karier yang berkelanjutan dan bermakna. Employability dipahami sebagai perpaduan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman yang membuat seseorang cakap, kompetitif, dan bernilai di dunia kerja, serta mampu beradaptasi di tengah perubahan. Peserta diperkenalkan pada formula employability yang terdiri atas enam unsur, yaitu pengetahuan (apa yang diketahui), keterampilan (apa yang dapat dilakukan), karakter (siapa diri kita), pengalaman (apa yang sudah dikerjakan), komunikasi (cara membangun hubungan), dan adaptabilitas (cara merespons perubahan).
Materi berlanjut ke ragam keterampilan yang perlu dikuasai calon peneliti dan tenaga profesional. Pada keterampilan teknis (hard skills), peserta diajak mengenali kebutuhan di bidang biomedis, seperti teknik dan instrumentasi laboratorium, analisis data, metodologi penelitian, penulisan dan publikasi ilmiah, penggunaan perangkat lunak seperti SPSS, GraphPad, dan EndNote, pengetahuan regulasi seperti BPOM dan GLP, serta keahlian spesifik seperti kultur sel dan biologi molekuler. Keterampilan teknis perlu diimbangi soft skills seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen waktu, dan kecerdasan emosional, serta keterampilan lintas bidang seperti berpikir kritis, literasi data, dan ketangguhan menghadapi tekanan. Peserta juga mempelajari tujuh tahapan pemecahan masalah, mulai dari mengidentifikasi masalah hingga memantau dan mengevaluasi hasil solusi.
Pada bagian akhir, Prof. Wahyu membahas cara membangun nilai diri. Peserta diajak menyusun portofolio yang memuat capaian akademik, publikasi penelitian, pengalaman proyek dan magang, sertifikasi, paten atau inovasi produk, presentasi di konferensi, hingga keterlibatan di masyarakat. Peserta juga dibekali tujuh langkah meningkatkan employability, yaitu menilai kompetensi diri, menetapkan tujuan yang jelas, mengembangkan keterampilan, menambah pengalaman, membangun portofolio, memperluas jejaring, dan terus belajar.
Melalui kedua sesi ini, peserta magang diharapkan memandang masa magang sebagai kesempatan menempa karakter sekaligus mengasah kompetensi sebagai bekal karier, sementara para staf diajak terus memperkuat kapasitas diri seiring perkembangan dunia riset. Dengan begitu, seluruh keluarga besar Aretha dapat tumbuh bersama sebagai insan profesional yang berintegritas, kompeten, dan siap menghadapi perubahan.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center