Home / Activites / Kayu Secang Diteliti sebagai Calon Bahan Pasta Gigi: Lawan Radikal Bebas dan Hambat Mikroba Penyebab Plak

Kayu Secang Diteliti sebagai Calon Bahan Pasta Gigi: Lawan Radikal Bebas dan Hambat Mikroba Penyebab Plak

Sekitar separuh penduduk dunia, atau kira-kira 3,5 miliar orang, mengalami masalah kesehatan mulut menurut laporan WHO yang dikutip dalam penelitian ini. Para peneliti dari Indonesia mencari bahan herbal yang berpotensi membantu mencegahnya, dan pilihan mereka jatuh pada kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Hasil penelitiannya terbit dalam artikel berjudul Antimicrobial and Antioxidant Activities of Caesalpinia sappan L. (Sappan Wood) Extract: A Preliminary Study Toward Toothpaste Application di Hacettepe University Journal of the Faculty of Pharmacy, Volume 45 Nomor 4, Desember 2025, halaman 316-328.

Penulis korespondensinya adalah Euis Reni Yuslianti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani. Prof. Dr. Wahyu Widowati, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha sekaligus Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama, tercantum sebagai salah satu penulis. Menurut pernyataan kontribusi dalam artikel, Prof. Wahyu terlibat dalam konsep, desain, penyediaan sumber daya, pengumpulan data, serta analisis penelitian. Penulis lainnya adalah Agus Susanto dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Afifah Bambang Sutjiatmo dan Dhanar Septyawan Hadiprasetyo dari Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani, Vini Ayuni dari Biomolecular and Biomedical Research Center PT Aretha Medika Utama, serta Nadia Amalia dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Naskah diterima jurnal pada 13 Februari 2025 dan disetujui terbit pada 28 Oktober 2025.

Latar belakangnya, plak gigi terbentuk dari biofilm mikroba di permukaan gigi. Streptococcus mutans dan Candida albicans berperan dalam pembentukannya, sedangkan Porphyromonas gingivalis dikaitkan dengan penyakit gusi. Penumpukan radikal bebas (ROS) juga dikaitkan dengan masalah kesehatan mulut. Karena itu, penelitian ini menguji dua hal sekaligus pada ekstrak kayu secang, yaitu kemampuannya sebagai antioksidan dan sebagai antimikroba.

Ekstrak berasal dari kayu teras secang yang dikumpulkan di Semarang, Jawa Tengah. Proses ekstraksi dilakukan di PT Borobudur Industri Jamu dengan cara maserasi memakai etanol 70% sesuai prinsip Good Manufacturing Practices (GMP), lalu dicampur maltodekstrin. Mutu ekstrak dinilai berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 32 Tahun 2019 tentang obat tradisional. Hasilnya, susut pengeringan 2,93% (batas maksimal 5%), cemaran logam arsen dan timbal memenuhi syarat, angka lempeng total dan kapang-khamir di bawah 100 CFU/g (batas 1.000 CFU/g), serta E. coli, Salmonella, S. aureus, dan P. aeruginosa tidak ditemukan.

Aktivitas antioksidan diuji dengan empat metode. Nilai IC50 terendah, yang berarti paling kuat, muncul pada uji ABTS sebesar 18,42 µg/mL, diikuti DPPH 41,20 µg/mL, nitrat oksida (NO) 76,47 µg/mL, dan hidrogen peroksida (H2O2) 90,25 µg/mL. Menurut penulis, aktivitas pada ABTS dan DPPH tergolong sangat kuat, sedangkan NO dan H2O2 tergolong kuat. Aktivitas meningkat seiring naiknya konsentrasi ekstrak.

Untuk aktivitas antimikroba, ekstrak diuji terhadap tiga mikroorganisme (S. mutans ATCC 25175, P. gingivalis ATCC 33277, dan C. albicans ATCC 10231) dengan metode difusi cakram serta penetapan konsentrasi hambat dan bunuh minimum. Daya hambat pada uji difusi cakram mulai tampak pada konsentrasi 12,5% untuk S. mutans (zona hambat 1,27 mm) dan C. albicans (2,15 mm), serta pada 25% untuk P. gingivalis (0,81 mm). Zona hambat membesar seiring naiknya konsentrasi. Pada uji penghitungan koloni, jumlah koloni ketiga mikroorganisme menurun bertahap dari konsentrasi 12,5% hingga 75%, dan pada konsentrasi 100% tidak ditemukan koloni.

Para penulis juga mencatat keterbatasan penelitian. Uji antioksidan tidak memakai kontrol positif, sehingga kekuatannya belum dapat dibandingkan langsung dengan senyawa standar. Pada uji antimikroba, klorheksidin 0,2% sebagai kontrol positif menghasilkan zona hambat yang lebih besar daripada ekstrak secang pada semua mikroorganisme. Penulis menyebut ekstrak herbal ini kurang kuat daripada klorheksidin, tetapi dapat menjadi alternatif dengan efek samping yang lebih sedikit. Penelitian ini juga masih tahap awal dan belum menguji sediaan pasta gigi itu sendiri, sehingga hasilnya menjadi dasar untuk pengembangan lebih lanjut.

PT Aretha Medika Utama berkontribusi lewat dua hal. Pertama, ketiga galur mikroorganisme uji (ATCC) diperoleh dari Aretha. Kedua, tim Biomolecular and Biomedical Research Center Aretha memberi bantuan teknis, sebagaimana tercantum dalam ucapan terima kasih artikel. Penelitian ini didukung hibah penelitian tahun 2024 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Artikel lengkap dapat diakses melalui DOI: https://doi.org/10.52794/hujpharm.1639004.

About Aretha Medika

Check Also

Tindak Lanjut Kerja Sama Hilirisasi: Prof. Wahyu Widowati, Guru Besar FK Universitas Kristen Maranatha dan Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama, Hadiri Research to Industry Strategic Forum 2026 di PT Pajajaran Herba Indonesia

Prof. Dr. Wahyu Widowati, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Biologi Molekular Fakultas Kedokteran Universitas Kristen …

October 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031