Bandung – Komitmen PT Aretha Medika Utama dalam mengembangkan inovasi biomedis berbasis sains kembali diwujudkan melalui dukungan riset terhadap pengembangan serum antiaging yang memadukan bahan alami dan teknologi biomolekuler. Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas institusi dan dilaksanakan dengan dukungan fasilitas laboratorium Aretha Medika Utama – Biomolecular and Biomedical Research Center.
Formulasi serum dikembangkan menggunakan ekstrak Centella asiatica, Curcuma longa, Aloe vera, Rosa centifolia, serta Salmon DNA sebagai bahan aktif utama. Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan produk perawatan kulit yang tidak hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat dalam mendukung regenerasi sel dan kesehatan kulit jangka panjang.
Pendekatan Ilmiah dalam Menjawab Tantangan Penuaan Kulit
Penuaan kulit merupakan proses biologis yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti paparan sinar ultraviolet, polusi lingkungan, serta stres oksidatif. Dampaknya terlihat pada berkurangnya elastisitas kulit, melambatnya regenerasi sel, serta penurunan produksi kolagen dan kelembapan alami.
Melalui pendekatan riset in vitro, serum diuji pada sel fibroblas manusia yang mengalami luka sebagai model penuaan kulit. Evaluasi dilakukan melalui beberapa parameter utama, antara lain:
- Uji aktivitas antioksidan (DPPH) untuk menilai kemampuan perlindungan terhadap radikal bebas.
- Uji viabilitas sel untuk memastikan keamanan penggunaan pada konsentrasi tertentu.
- Analisis ekspresi gen (qRT-PCR) terhadap gen kunci yang berperan dalam regenerasi kulit, yaitu COL1A1, TGF-β1, FGF-2, dan HYAL-1.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa serum berpotensi meningkatkan ekspresi gen yang mendukung pembentukan kolagen dan perbaikan jaringan, sekaligus menurunkan ekspresi gen yang berperan dalam degradasi asam hialuronat. Temuan ini mengindikasikan potensi serum sebagai agen antiaging berbasis mekanisme biologis yang terukur.
Sinergi Bahan Alami dan Teknologi Biomedis
Formulasi serum mengintegrasikan kekayaan bahan alam dengan pendekatan bioteknologi modern:
- Centella asiatica berperan dalam stimulasi sintesis kolagen dan penyembuhan jaringan.
- Curcuma longa memberikan perlindungan antioksidan terhadap stres oksidatif.
- Aloe vera mendukung hidrasi dan stimulasi faktor pertumbuhan sel.
- Rosa centifolia memiliki aktivitas antiinflamasi dan protektif terhadap penuaan kulit.
- Salmon DNA berkontribusi pada regenerasi jaringan dan peningkatan elastisitas kulit.
Pendekatan multi-target ini memungkinkan produk bekerja secara komprehensif, mulai dari perlindungan sel hingga perbaikan struktur jaringan kulit.
Peran Aretha Medika Utama dalam Ekosistem Riset
Sebagai pusat riset biomolekuler dan biomedis, Aretha Medika Utama menyediakan fasilitas laboratorium, dukungan metodologi, serta penguatan standar kualitas penelitian. Keterlibatan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem inovasi yang berorientasi pada bukti ilmiah, kualitas, dan keberlanjutan.
Kolaborasi riset ini juga memperkuat posisi Aretha Medika Utama sebagai mitra strategis bagi akademisi, industri, dan lembaga riset dalam menghasilkan solusi kesehatan yang bernilai tambah dan berdaya saing.
Mendorong Masa Depan Produk Kesehatan Berbasis Sains
Pengembangan serum antiaging ini membuka peluang untuk menghadirkan produk perawatan kulit generasi baru yang:
- Memiliki landasan ilmiah yang kuat,
- Mengutamakan keamanan dan efektivitas,
- Mendukung inovasi berkelanjutan,
- Memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.
Ke depan, pengujian lanjutan pada skala klinis akan menjadi bagian penting dalam proses translasi riset menuju aplikasi yang lebih luas. (epsh)
PT Aretha Medika Utama terus berkomitmen menjadi penggerak inovasi riset biomedis demi mendukung kemajuan kesehatan dan kualitas hidup.
Tulisan ini diambil dari penelitian : “The Antiaging Potential of Serum Formulations from Centella asiatica, Curcuma longa, Aloe vera, Rosa centifolia, and Salmon DNA on Injured Human Fibroblast Cells”
https://doi.org/10.4308/hjb.32.3.623-631
Tim Peneliti
Ermi Girsang1*, Teresa Liliana Wargasetia2, Deni Rahmat3, Marisca Evalina Gondokesumo4, Mathelda Weni Harjanti2, Wahyu Widowati2, Fadhilah Haifa Zahiroh5, Zahra Qisthi Saufa6, Oktaviana Takasenserang7, Dhanar Septyawan Hadiprasetyo8
Institusi Kolabolator
1Faculty of Medicine, Universitas Prima Indonesia, Medan 20118, North Sumatera, Indonesia
2Faculty of Medicine, Maranatha Christian University, Bandung 40164, West Java, Indonesia 3Faculty of Pharmacy, University of Pancasila, Jakarta 12640, Indonesia
4Department Biology Pharmacy, Faculty of Pharmacy, University of Surabaya, Universitas Surabaya, Surabaya 60293, Indonesia
5Aretha Medika Utama, Bimolecular and Biomedical Research Center, Bandung 40163, West Java, Indonesia
6Department of Biology, School of Life Sciences and Technology, Bandung Institute of Technology, Bandung 40132, West Java, Indonesia
7Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Manado 95115, North Sulawesi, Indonesia
8Faculty of Pharmacy, Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi 40531, West Java,
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center
