Jakarta — Kelompok peneliti stem cell STELLAR kembali menggelar Monthly Scientific Meeting pada Jumat, 27 Februari 2026, menghadirkan paparan ilmiah bertajuk “Specialized Cell Lines for Cancer and Stem Cell Research.” Kegiatan ini merupakan bagian dari Presentasi Hibah RIKUB yang disampaikan oleh Prof. Wahyu Widowati, peneliti dari Maranatha Christian University bersama Rizal Azis dari Universitas Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Wahyu menekankan bahwa cell line atau galur sel merupakan fondasi penting dalam riset biomedis modern. Keberadaan specialized cell lines, baik yang berasal dari jaringan kanker maupun stem cell, menjembatani penelitian dasar molekuler dengan aplikasi klinis. Model ini memungkinkan peneliti melakukan drug screening, analisis jalur sinyal (signaling pathways), studi mikroenvironment tumor, hingga pengembangan terapi regeneratif secara terkontrol dan reprodusibel.
Strategi Pembentukan Cell Line Stabil
Dijelaskan bahwa sel primer memiliki keterbatasan umur akibat replicative senescence yang dipicu oleh pemendekan telomer dan aktivasi jalur p53 serta Rb. Oleh karena itu, diperlukan proses immortalization untuk menghasilkan galur sel kontinu tanpa transformasi ganas.
Beberapa pendekatan yang dipaparkan meliputi penggunaan SV40 Large T Antigen, hTERT (human telomerase reverse transcriptase), serta HPV E6/E7. Metode hTERT dinilai lebih relevan secara fisiologis karena mempertahankan panjang telomer tanpa secara langsung menonaktifkan p53 dan Rb, sehingga cocok untuk riset penuaan dan sel mesenkimal. Sementara itu, SV40 dan HPV E6/E7 memberikan proliferasi kuat namun memiliki risiko transformasi yang lebih tinggi.
Model Kanker dan Stem Cell dalam Onkologi
Dalam konteks onkologi, galur sel kanker payudara seperti MCF7, T-47D, MDA-MB-231, dan SK-BR-3 digunakan untuk mempelajari terapi hormonal, resistensi obat, hingga mekanisme metastasis. Sementara itu, galur glioma seperti U-87 MG dan T98G berperan penting dalam riset neuro-onkologi, termasuk studi sensitivitas radiasi dan kemoresistensi.
Di sisi lain, mesenchymal stem cells (MSCs) dari Wharton’s jelly dan darah tali pusat (UCMSCs dan UCBMSCs) memiliki potensi besar dalam imunomodulasi, penyembuhan luka, serta terapi regeneratif. Kombinasi co-culture antara sel kanker dan MSC membuka wawasan baru terkait interaksi mikroenvironment tumor, termasuk kemungkinan MSC menghambat atau justru mendukung pertumbuhan kanker tergantung dosis dan konteks biologisnya.
Dari Riset Dasar ke Bioproduksi
Lebih jauh, forum ini juga membahas pemanfaatan cell line dalam industri biofarmasi. Galur seperti CHO dan HEK293 telah menjadi platform utama produksi antibodi monoklonal, vaksin, dan protein rekombinan dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP). Prosesnya melibatkan pembentukan Master Cell Bank, uji stabilitas genetik, hingga validasi keamanan sesuai regulasi internasional.
Pertemuan ilmiah STELLAR ini menegaskan pentingnya autentikasi, pengujian bebas mikoplasma, serta kontrol kualitas ketat untuk memastikan reproduksibilitas riset. Dengan perkembangan teknologi seperti kultur 3D, organoid, dan analisis berbasis kecerdasan artifisial, model cell line diproyeksikan semakin mendekati kondisi fisiologis in vivo.
Melalui forum kolaboratif ini, STELLAR memperkuat komitmennya dalam mendorong inovasi riset biomedis nasional yang berstandar global dan berdampak translasi bagi pengembangan terapi masa depan.(epsh)
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center

