Penyakit hati masih menjadi salah satu masalah kesehatan global yang terus meningkat. Banyak kasus berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, hingga akhirnya terdeteksi ketika kondisi sudah cukup serius. Salah satu kondisi yang sering terjadi adalah fibrosis hati, yaitu terbentuknya jaringan parut pada hati akibat peradangan yang berlangsung lama. Jika tidak ditangani, fibrosis dapat berkembang menjadi sirosis hati bahkan meningkatkan risiko kanker hati.
Namun, perkembangan ilmu biomedis kini menghadirkan harapan baru. Para peneliti mulai menemukan bahwa sistem imun tubuh sendiri memiliki potensi besar untuk membantu memperbaiki kerusakan hati, salah satunya melalui peran sel imun yang disebut makrofag.
Hati: Organ Penting yang Bekerja Tanpa Henti
Hati merupakan organ vital yang menjalankan berbagai fungsi penting bagi tubuh. Organ ini berperan dalam metabolisme nutrisi, pengaturan lemak dan kolesterol, penyimpanan energi, serta detoksifikasi berbagai zat berbahaya termasuk obat-obatan. Selain itu, hati juga memiliki peran penting dalam mendukung sistem kekebalan tubuh dan menjaga keseimbangan berbagai proses biologis.
Karena tugasnya yang kompleks, hati rentan mengalami kerusakan akibat berbagai faktor seperti infeksi virus hepatitis, konsumsi alkohol berlebihan, gangguan metabolik, maupun efek samping obat-obatan tertentu.
Fibrosis Hati: Ketika Proses Penyembuhan Menjadi Masalah
Ketika hati mengalami cedera berulang, tubuh secara alami akan berusaha memperbaiki jaringan yang rusak. Namun dalam kondisi tertentu, proses perbaikan ini justru memicu pembentukan jaringan parut yang berlebihan. Kondisi inilah yang dikenal sebagai fibrosis hati.
Fibrosis terjadi ketika sel-sel di hati memproduksi kolagen dan komponen jaringan ikat secara berlebihan. Akibatnya, struktur hati berubah menjadi lebih kaku dan fungsi organ perlahan menurun. Jika proses ini terus berlanjut, fibrosis dapat berkembang menjadi sirosis yang lebih serius dan berpotensi menyebabkan gagal hati.
Makrofag: Sel Imun yang Membantu Perbaikan Jaringan
Di dalam hati terdapat berbagai sel imun yang berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh, salah satunya adalah makrofag. Sel ini dikenal sebagai bagian penting dari sistem pertahanan tubuh karena mampu mengenali, menelan, dan membersihkan sel-sel yang rusak atau patogen.
Menariknya, makrofag memiliki kemampuan untuk berubah fungsi sesuai kebutuhan tubuh. Secara umum, makrofag terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu:
- Makrofag M1, yang berperan memicu respons peradangan untuk melawan infeksi.
- Makrofag M2, yang berperan meredakan peradangan serta membantu proses perbaikan jaringan.
Makrofag tipe M2 inilah yang kini menjadi fokus penelitian karena kemampuannya dalam mengurangi peradangan dan mendukung regenerasi jaringan hati.
Potensi Imunoterapi untuk Mengatasi Fibrosis Hati
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa makrofag M2 memiliki sifat antiinflamasi dan reparatif yang penting dalam proses penyembuhan. Sel ini mampu mengatur respons imun, membersihkan sel yang rusak, serta membantu memperbaiki jaringan hati yang mengalami cedera.
Makrofag M2 juga bekerja melalui berbagai jalur molekuler penting, seperti IL-10/STAT3 dan TGF-β/SMAD, yang berperan dalam menekan respons peradangan sekaligus mendukung regenerasi jaringan. Melalui mekanisme ini, makrofag berpotensi membantu mengurangi perkembangan fibrosis pada hati.
Pendekatan ini dikenal sebagai imunoterapi berbasis sel, yaitu strategi pengobatan yang memanfaatkan kemampuan sistem imun untuk memperbaiki kerusakan organ secara alami.
Tantangan dan Masa Depan Penelitian
Walaupun menunjukkan potensi yang menjanjikan, terapi berbasis makrofag masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas pada manusia. Para ilmuwan masih mempelajari berbagai aspek penting, seperti bagaimana mengatur aktivitas sel imun secara tepat, memastikan keamanan terapi, serta mengoptimalkan efektivitasnya dalam berbagai kondisi penyakit hati.
Selain itu, respons terapi juga dapat berbeda pada setiap individu, sehingga pendekatan yang lebih personal dalam pengobatan kemungkinan akan menjadi bagian penting dalam pengembangan terapi ini di masa depan.
Harapan Baru dari Dunia Sains
Kemajuan riset di bidang imunologi dan bioteknologi terus membuka peluang baru dalam pengobatan penyakit hati. Dengan memahami lebih dalam cara kerja sistem imun, para peneliti berharap dapat mengembangkan terapi yang tidak hanya menghentikan kerusakan hati, tetapi juga membantu organ ini pulih kembali secara alami.
Penelitian mengenai makrofag M2 menjadi salah satu langkah penting menuju masa depan pengobatan yang lebih inovatif. Di tengah meningkatnya angka penyakit hati di dunia, temuan ini membawa harapan bahwa ilmu pengetahuan dapat menghadirkan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan bagi kesehatan manusia.
Tim Peneliti :
Wahyu Widowati1* ID , Adilah Hafizha Nur Sabrina2 , Annisa Firdaus Sutendi2 , Fadhilah Haifa Zahiroh2 , Teresa Liliana Wargasetia1 , Ita Margaretha Nainggolan3,4, Elham Rismani5* ID , Massoud Vosough6,7,8* ID
Intansi Kolaborator :
1 Faculty of Medicine, Maranatha Christian University, Bandung 40164, Indonesia 2 Aretha Medika Utama, Biomolecular and Biomedical Research Center, Bandung 40163, Indonesia 3 Eijkman Research Center for Molecular Biology, National Research and Innovation Agency, Bogor, Indonesia 4 School of Medicine and Health Sciences, Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta, Indonesia 5 Molecular Medicine Department, Biotechnology Research Center (BRC), Pasteur Institute of Iran, Tehran, Iran 6 Department of Regenerative Medicine, Cell Science Research Center, Royan Institute for Stem Cell Biology and Technology, Tehran, Iran 7 Experimental Cancer Medicine, Institution for Laboratory Medicine, and Karolinska University Hospital, Karolinska Institute, Stockholm, Sweden 8 Department of Cellular and Molecular Biology, Faculty of Sciences and Advanced Technology in Biology, University of Science and Culture, Tehran, Iran
Referesni Artikel : doi: 10.34172/apb.025.43855
https://apb.tbzmed.ac.ir/Article/apb-43855
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center
