Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi di dalam tubuh ketika hati mengalami kerusakan?
Di balik organ yang tampak tenang itu, sebenarnya sedang berlangsung “pertempuran biologis” yang sangat kompleks. Sel-sel tubuh saling berkomunikasi, sistem imun bekerja keras, dan berbagai mekanisme penyembuhan berusaha mengatasi kerusakan yang terjadi.
Para ilmuwan kini menemukan bahwa komunikasi antara sistem imun dan sel hati bisa menjadi kunci untuk menghentikan bahkan membalikkan penyakit fibrosis hati—sebuah kondisi yang selama ini dianggap sulit diatasi.
Ketika Luka di Hati Menjadi Jaringan Parut
Fibrosis hati terjadi ketika organ hati mengalami kerusakan kronis, misalnya akibat:
- hepatitis virus
- konsumsi alkohol berlebihan
- fatty liver atau gangguan metabolik
- peradangan jangka panjang
Saat Hati Hepar atau liver nengalami inflamasi, tubuh sebenarnya berusaha memperbaiki diri. Namun dalam proses itu, terbentuk jaringan parut yang terus menumpuk.
Jika tidak dihentikan, jaringan parut ini bisa berkembang menjadi sirosis bahkan kanker hati. Yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa fibrosis hati tidak selalu permanen. Pada tahap awal, kerusakan ini masih bisa diperbaiki jika proses biologisnya dapat dikendalikan.
Sel Kecil yang Bisa Mengubah Nasib Hati
Di dalam hati terdapat sel penting bernama hepatic stellate cells (HSCs).
Dalam kondisi normal, sel ini sebenarnya “tenang” dan berfungsi membantu menjaga keseimbangan jaringan hati.
Namun ketika terjadi cedera, sel ini berubah drastis. Mereka menjadi sangat aktif dan mulai memproduksi kolagen serta jaringan ikat dalam jumlah besar. Inilah yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada hati. Jika sel ini terus aktif, fibrosis akan semakin parah. Namun kabar baiknya: sel ini juga bisa dikendalikan.
Sistem Imun: Penyelamat yang Tak Terduga
Tubuh kita memiliki sistem imun yang tidak hanya melawan infeksi, tetapi juga ikut menentukan apakah hati akan pulih atau semakin rusak.
Beberapa sel imun bahkan dapat membantu menghentikan fibrosis.
Misalnya:
Sel Natural Killer (NK)
Sel ini mampu “memburu” dan menghancurkan sel hati yang terlalu aktif membentuk jaringan parut.
Makrofag
Sel ini bekerja seperti petugas kebersihan biologis—membersihkan sel yang rusak dan membantu mengurai jaringan parut.
Sel T regulator
Sel ini membantu menenangkan peradangan berlebihan agar kerusakan tidak semakin meluas.
Journal of Immunology Research …
Dengan kata lain, tubuh sebenarnya memiliki sistem alami untuk melawan fibrosis.
Harapan Baru dari Dunia Sains
Para ilmuwan kini tidak lagi hanya fokus pada penyebab penyakit hati, tetapi juga mencoba mengatur komunikasi antara sistem imun dan sel hati.
Pendekatan ini membuka berbagai peluang terapi baru, seperti:
- terapi imun untuk mengontrol peradangan
- terapi stem cell untuk membantu regenerasi hati
- terapi berbasis exosome dan mikroRNA
- obat yang menargetkan jalur molekuler pembentuk fibrosis
Tujuannya bukan hanya memperlambat kerusakan, tetapi menghentikan bahkan membalikkan fibrosis.
Masa Depan Pengobatan Hati Mungkin Akan Berubah
Penelitian ini membawa pesan penting:
Fibrosis hati bukan sekadar proses “parut permanen”. Ia adalah proses biologis yang dinamis—dan mungkin bisa dikendalikan.
Dengan memahami bagaimana sel imun dan sel hati saling berkomunikasi, para ilmuwan semakin dekat dengan terapi yang dapat benar-benar memulihkan organ hati. Sebuah harapan baru bagi jutaan orang yang hidup dengan penyakit hati di seluruh dunia. (epsh)
Sains terus berkembang. Dan di balik setiap penelitian, selalu ada harapan baru untuk kesehatan manusia.
“Tim Peneliti :”
Wahyu Widowati ,(1) Adilah Hafizha Nur Sabrina ,(2) Annisa Firdaus Sutendi ,(2) Fadhilah Haifa Zahiroh ,(2) Aris Muhamad Nurjamil ,(2) Teresa Liliana Wargasetia ,(1) ItaMargarethaNainggolan ,(3) Rizal Azis , (4) Elham Rismani ,5and Massoud Vosough (6,7,8)
Intansi Kolaborator
(1)Faculty of Medicine, Maranatha Christian University, Bandung, West Java 40164, Indonesia (2) Aretha Medika Utama, Biomolecular and Biomedical Research Center, Bandung 40163, West Java, Indonesia (3) School of Medicine and Health Sciences, Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta 14440, Indonesia (4) Biomedical Engineering, Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, University of Indonesia, Depok, Indonesia (5) Molecular Medicine Department, Biotechnology Research Center (BRC), Pasteur Institute of Iran, Tehran, Iran (6) Department of Regenerative Medicine, Cell Science Research Center, Royan Institute for Stem Cell Biology and Technology, Tehran, Iran (7) Experimental Cancer Medicine, Institution for Laboratory Medicine, and Karolinska University Hospital, Karolinska Institute, Stockholm, Sweden 8Department of Cellular and Molecular Biology, Faculty of Sciences and Advanced Technology in Biology, University of Science and Culture, Tehran, Iran
Referensi Artikel : DOI.org/10.1155/jimr/2656395”
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center
