Masalah gigi berlubang sering dianggap sepele hingga rasa nyeri muncul dan mengganggu aktivitas. Padahal, menurut data global, sekitar 60–90% anak usia sekolah dan sebagian besar orang dewasa pernah mengalami karies gigi. Di Indonesia, prevalensinya juga masih tinggi.
Di tengah masalah yang umum ini, penelitian terbaru menghadirkan harapan baru dari bahan alami yang mudah ditemukan, yaitu buah naga merah.
Masalah yang Sering Tidak Disadari: Plak dan Bakteri
Karies gigi tidak terjadi secara tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus mutans yang membentuk lapisan plak atau biofilm di permukaan gigi.
Bakteri ini bekerja dengan cara:
- Mengubah gula menjadi asam
- Merusak lapisan enamel gigi
- Sulit dihilangkan hanya dengan menyikat gigi
Plak sering kali tidak terlihat dengan jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari keberadaannya. Untuk itu, tenaga medis biasanya menggunakan zat pewarna khusus (disclosing agent) untuk membantu mendeteksi plak sejak dini.
Keterbatasan Produk Kimia
Sebagian besar produk pendeteksi plak yang beredar saat ini menggunakan bahan kimia sintetis seperti erythrosine.
Namun, penggunaannya memiliki beberapa risiko, antara lain:
- Iritasi pada jaringan mulut
- Gangguan kesehatan tertentu
- Potensi efek toksik dalam penggunaan jangka panjang
Hal ini menjadi perhatian, terutama untuk penggunaan pada anak-anak.
Buah Naga Merah sebagai Alternatif Alami
Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki potensi sebagai alternatif alami yang lebih aman.
Buah naga mengandung senyawa aktif seperti:
- Betacyanin (termasuk betanin) sebagai antioksidan
- Phyllocactin yang berperan dalam aktivitas biologis
Senyawa-senyawa ini berkontribusi terhadap efek perlindungan terhadap kesehatan mulut.
Temuan Penting Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin utama:
- Aktivitas Antibakteri
Ekstrak buah naga mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies. Efek ini meningkat seiring dengan konsentrasi yang digunakan. - Aktivitas Antibiofilm
Ekstrak mampu menghambat pembentukan plak hingga 91,57%, menunjukkan potensi besar dalam pencegahan karies. - Aktivitas Antioksidan
Dengan nilai IC50 sebesar 158,43 µg/mL, ekstrak ini memiliki kemampuan menangkal radikal bebas yang berperan dalam peradangan rongga mulut.
Inovasi Produk: Jelly Kunyah untuk Anak
Salah satu inovasi menarik dari penelitian ini adalah pengembangan produk dalam bentuk jelly kunyah.
Produk ini dirancang agar:
- Mudah digunakan, terutama untuk anak-anak
- Nyaman dikonsumsi
- Memiliki fungsi ganda sebagai pendeteksi plak dan agen antibakteri
Hasil uji menunjukkan bahwa produk ini memiliki stabilitas yang baik serta karakteristik fisik yang sesuai untuk penggunaan oral.
Namun demikian, masih terdapat tantangan pada intensitas warna yang dihasilkan, sehingga efektivitas sebagai penanda plak perlu ditingkatkan.
Makna bagi Masyarakat
Penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting:
- Menawarkan alternatif alami yang lebih aman dibanding bahan sintetis
- Berpotensi meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi
- Mendukung pengembangan produk kesehatan berbasis bahan alami
- Memberikan solusi inovatif yang ramah anak
Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis alam dapat menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit gigi dan mulut.
Kesimpulan
Ekstrak buah naga merah menunjukkan potensi besar sebagai bahan alami untuk pencegahan karies melalui aktivitas antibakteri, antibiofilm, dan antioksidan.
Meskipun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, terutama dalam peningkatan efektivitas visual dan uji klinis, penelitian ini menjadi langkah awal menuju inovasi produk kesehatan gigi yang lebih aman dan berbasis alam.
Dengan pemanfaatan yang tepat, bahan sederhana seperti buah naga dapat menjadi bagian dari solusi kesehatan di masa depan.(epsh)
Tim Peneliti
Vinna Kurniawati Sugiaman (1) *, Jeffrey Jeffrey (2) , Dahlia Sutanto1 ,Wahyu Widowati (3) , Dhanar Septyawan Hadiprasetyo (4,5), Vini Ayuni (5) , Timbul Partogi Haposan Simorangkir (6,7) and Rizal Azis (5,8)
Intansi Kolaborator
1 Faculty of Dentistry, 3 Faculty of Medicine, Maranatha Christian University, Bandung 40164, Indonesia 2 Faculty of Dentistry, 4 Faculty of Pharmacy, Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, 40531, Indonesia 5 Biomolecular and Biomedical Research Center, Aretha Medika Utama, Bandung 40163, Indonesia 6 Faculty of Military Pharmacy, Indonesia Defense University, Bogor 16810, Indonesia 7 Army Health Center Pharmacy Institute, Bandung 40111, Indonesia 8 Biomedical Engineering, Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, Depok 16425, Indonesia
Referensi Artikel : DOI: 10.56042/ijnpr.v16i3.15282
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center
