
Hampir setiap obat yang beredar hari ini pernah melewati pengujian pada hewan sebelum sampai ke manusia. Alasan, cara memilih hewan, dan tata kelolanya menjadi pokok bahasan kelas kuliah MBKM PT Aretha Medika Utama pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kelas berlangsung melalui Zoom dan diikuti mahasiswa magang dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD), bersama staf Aretha. Materi disampaikan oleh Alfiriyan Krisna Melati, S.Si., M.Si. selaku analis laboratorium in vivo dengan tema animal model in experimental.
Alfiriyan memulai dari pertanyaan paling mendasar, yaitu mengapa penelitian membutuhkan model hewan. Tubuh makhluk hidup adalah sistem yang saling terhubung antara organ, hormon, imun, dan metabolisme, sehingga tidak semua respons dapat ditiru oleh kultur sel di cawan. Hewan memungkinkan peneliti mengamati efek dan keamanan suatu bahan pada organisme utuh dalam kondisi yang dapat dikendalikan, mulai dari jenis pakan, lingkungan, hingga durasi perlakuan, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan pada manusia karena alasan etik. Karena itu, model hewan umumnya menjadi jembatan antara uji in vitro dan uji klinis.
Peserta kemudian diajak menelusuri sejarah penggunaan hewan dalam ilmu kedokteran, dari pengamatan anatomi pada masa Yunani kuno, penelitian fisiologi tentang peredaran darah, hingga perkembangan mikrobiologi dan farmakologi modern. Sejarah ini juga mencakup perkembangan etikanya. Prinsip 3R, yaitu replacement (mengganti dengan metode lain bila memungkinkan), reduction (mengurangi jumlah hewan), dan refinement (meminimalkan penderitaan hewan), kini menjadi pegangan dalam setiap penelitian yang melibatkan hewan.

Bagian berikutnya membahas jenis hewan model. Mencit dan tikus paling banyak dipakai karena ukurannya kecil, siklus hidupnya singkat, perawatannya relatif mudah, dan banyak galur yang sudah terstandar. Hewan lain seperti kelinci, marmut, ikan zebra, babi, hingga primata non-manusia dipilih bila pertanyaan penelitiannya menuntut kemiripan fisiologi tertentu. Peserta diingatkan bahwa tidak ada satu hewan yang cocok untuk semua penelitian, sehingga pemilihan harus didasarkan pada tujuan penelitian, kemiripan dengan kondisi manusia, ketersediaan, biaya, dan pertimbangan etik.
Alfiriyan juga menjelaskan klasifikasi model hewan. Model dapat dikelompokkan menurut cara penyakit atau kondisi yang diteliti muncul, yaitu model spontan yang terjadi secara alami pada hewan, model induksi yang dibuat melalui perlakuan seperti paparan bahan kimia, pembedahan, atau luka, serta model hewan hasil rekayasa genetik. Peserta diperkenalkan pula pada model negatif dan model orphan. Pemahaman terhadap klasifikasi ini membantu peneliti menilai seberapa tepat suatu model mewakili penyakit yang ingin dipelajari.

Materi ditutup dengan animal husbandry, yaitu pemeliharaan hewan percobaan. Kondisi kandang, suhu, kelembapan, pencahayaan, alas kandang, pakan, air minum, dan masa adaptasi hewan sebelum perlakuan semuanya memengaruhi hasil penelitian. Hewan yang stres atau sakit dapat menghasilkan data yang berubah-ubah, sehingga perawatan yang baik tidak hanya soal kesejahteraan hewan tetapi juga keandalan data. Karena itu, penelitian dengan hewan selalu memerlukan persetujuan komisi etik.
Bagi mahasiswa magang dari UPI dan UNPAD, kelas ini menjadi pengenalan awal terhadap pekerjaan di laboratorium in vivo, termasuk tanggung jawab yang menyertainya. Bagi staf Aretha, sesi ini menyegarkan kembali dasar-dasar yang menopang setiap penelitian berbasis hewan di laboratorium.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center