
Stroke iskemik menyebabkan sekitar 6,5 juta kematian per tahun di dunia, dan lebih dari 80% kasus stroke tergolong iskemik. Di Indonesia, prevalensinya naik dari 7 per mil pada 2013 menjadi 10,9 per mil pada 2018 menurut Riskesdas. Terapi yang tersedia masih terbatas oleh jendela waktu pemberian trombolitik yang sempit dan risiko perdarahan, sementara cedera reperfusi dapat memperparah kerusakan saraf lewat stres oksidatif dan peradangan. Persoalan inilah yang diangkat dalam artikel In silico screening of Nrf2-activating phytocompounds for ischemic stroke therapy di jurnal Medicinal Plants Volume 17 Nomor 3, September 2025, halaman 518-526. Prof. Dr. Wahyu Widowati, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha sekaligus Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama, tercantum sebagai penulis dalam publikasi ini.
Penulis korespondensinya adalah Aria Chandra Gunawan Triwibowo Soedomo dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Tim peneliti juga terdiri atas para peneliti dari IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan Biomolecular and Biomedical Research Center PT Aretha Medika Utama. Naskah diterima jurnal pada 21 Juni 2025 dan disetujui terbit pada 11 September 2025.
Penelitian ini berfokus pada Nrf2, faktor transkripsi yang mengatur gen-gen antioksidan dan pelindung sel sehingga dapat meredam radikal bebas, peradangan, dan kematian sel saraf. Kebanyakan studi sebelumnya menekankan obat sintetis atau senyawa tunggal tanpa profil komputasi dan farmakokinetik yang menyeluruh. Tim peneliti memilih tiga tanaman yang secara tradisional dipakai untuk obat dan dikenal bersifat antioksidan serta antiinflamasi, yaitu kelor (Moringa oleifera), meniran (Phyllanthus niruri), dan jintan hitam (Nigella sativa), yang potensi pengaturan Nrf2-nya masih sedikit dikaji.
Ekstrak metanol ketiga tanaman dianalisis dengan kromatografi cair-spektrometri massa (LC-MS) di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bogor, memakai UHPLC Agilent 1290 Infinity II yang dipasangkan dengan spektrometer massa Q-TOF Agilent 6545. Senyawa yang teridentifikasi kemudian diuji tambat molekul (molecular docking) terhadap domain Kelch dari Keap1 (PDB ID 7OFE), protein yang menahan Nrf2. Tambat molekul memakai AutoDock Vina dan setiap pasangan ligan-protein dijalankan 1.000 kali. Setelah itu, sifat farmakokinetik dan toksisitas diprediksi dengan pkCSM dan ProTox.

Hasilnya, turunan flavonol (Flavonol base + 4O, 1MeO, O-Hex-Hex) memiliki afinitas ikatan terkuat, yaitu −9,6 kkal/mol, diikuti Quercetin-3,4′-O-di-β-glucopyranoside sebesar −9,2 kkal/mol dan Ginsenoside Rb2 sebesar −5,3 kkal/mol. Interaksi dengan Keap1 stabil dan melibatkan residu penting seperti ARG415, TYR572, GLY509, dan ALA556 melalui ikatan hidrogen serta interaksi hidrofobik. Turunan flavonol disebut membentuk tujuh ikatan hidrogen, sedangkan Ginsenoside Rb2 membentuk enam. Dari sisi keamanan, ketiganya diprediksi memiliki profil farmakokinetik yang dapat diterima dan tidak bersifat mutagenik. Ginsenoside Rb2 dan turunan flavonol tidak menunjukkan sinyal hepatotoksisitas, sedangkan turunan kuersetin membawa peringatan hepatotoksisitas, yang menurut penulis bisa dipengaruhi glikosilasi atau metabolisme yang bergantung dosis. Ketiga senyawa melanggar tiga kriteria Lipinski terkait bobot molekul dan ikatan hidrogen, tetapi penulis menilai sifat tersebut masih dapat dimodifikasi secara farmasetika.
Penulis menegaskan keterbatasan penelitian. Hasil bersifat komputasional dan belum diuji di laboratorium maupun pada hewan, aspek metabolisme belum dipertimbangkan, dan penanda apoptosis maupun peradangan belum dianalisis. Karena itu, temuan ini diposisikan sebagai dasar untuk riset lanjutan, yaitu validasi in vitro gen target Nrf2 seperti HO-1 dan NQO1, serta pengujian efek antiinflamasi dan antiapoptosis pada model stroke iskemik.
Dalam bagian ucapan terima kasih, tim peneliti menyampaikan apresiasi kepada PT Aretha Medika Utama atas dukungan dalam analisis tambat molekul dan prediksi ADMET. Terima kasih juga disampaikan kepada Puslabfor Bogor atas fasilitas LC-MS dan Departemen Farmasi Universitas Pancasila atas dukungan institusional. Penelitian ini tidak menerima hibah khusus dari lembaga pendanaan mana pun.
Artikel lengkap dapat diakses melalui DOI: https://doi.org/10.5958/0975-6892.2025.00053.1.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center