Home / News / Dari Bumbu Dapur ke Riset Tumor Otak: Kunyit Versi Nano Diuji pada Sel Glioblastoma, Gen HOX Berubah dan Sel Kanker Memasuki Apoptosis

Dari Bumbu Dapur ke Riset Tumor Otak: Kunyit Versi Nano Diuji pada Sel Glioblastoma, Gen HOX Berubah dan Sel Kanker Memasuki Apoptosis

Glioblastoma multiforme (GBM) adalah tumor otak primer yang sangat agresif. Tumor ini tergolong glioma stadium IV menurut WHO dan cenderung menyusup ke jaringan otak sehat di sekitarnya. Pengobatan standarnya meliputi pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi temozolomid (TMZ), namun artikel yang dirujuk tim peneliti menyebut TMZ memiliki keterbatasan berupa biaya tinggi dan banyak efek samping. Karena itu, peneliti dari Aretha Medika Utama bersama mitra akademik mengkaji kurkumin dari kunyit (Curcuma longa L.) dalam bentuk nano. Hasilnya diterbitkan dalam artikel berjudul Homeobox Regulation of Nanocurcumin Against Glioblastoma: In Vitro Analysis di jurnal Natural Resources for Human Health Volume 6 Nomor 1 (2026), halaman 389-402.

Penulis pertama sekaligus penulis korespondensinya adalah Rizal Azis, yang berafiliasi dengan Departemen Teknik Elektro Universitas Indonesia dan Biomolecular and Biomedical Research Center Aretha Medika Utama. Prof. Dr. Wahyu Widowati, Guru Besar FK Universitas Kristen Maranatha sekaligus Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama, tercantum sebagai penulis kedua. Menurut pernyataan kontribusi, beliau terlibat dalam pengumpulan data, prosedur laboratorium, validasi teknis, penyeliaan metode analisis, dan telaah naskah. Penulis lainnya adalah Diki Diki dari Universitas Terbuka, Deni Rahmat dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Ahmad Faried dari Bedah Saraf FK Universitas Padjadjaran, Dwi Nur Triharsiwi dan Aris Muhamad Nurjamil dari Aretha Medika Utama, Deviana Lavender Suhanto dari Universitas Indonesia, Dhanar Septyawan Hadiprasetyo dari Universitas Jenderal Achmad Yani, dan Kasim Sakran Abass dari University of Kirkuk, Irak. Naskah diterima pada 21 Mei 2025, disetujui pada 12 September 2025, dan tersedia daring sejak 26 Januari 2026.

Kurkumin dikenal berpotensi sebagai antitumor dengan efek samping minimal, tetapi sulit larut dalam air, tidak stabil, dan cepat dimetabolisme tubuh. Formulasi nano dimaksudkan untuk mengatasi hambatan itu. Dalam penelitian ini, nanokurkumin dibuat dengan kitosan-natrium tripolifosfat, dengan kurkumin yang dipasok Plamed Green Science, Tiongkok. Hasil pengukuran menunjukkan ukuran partikel rata-rata 275,88 nm dan potensial zeta −70,40 mV. Sel GBM yang dipakai adalah sel U87 (ATCC HTB-14) yang disediakan oleh Aretha Medika Utama.

Tim peneliti mengamati tiga hal pada sel U87: kelangsungan hidup sel, ekspresi gen homeobox (HOX), dan proporsi sel hidup, nekrotik, serta apoptotik. Gen HOX berperan mengatur perkembangan sel, dan beberapa di antaranya dikaitkan dengan perkembangan tumor. Hasilnya, nanokurkumin menurunkan viabilitas sel U87 dengan nilai IC50 sebesar 44,06 µg/mL. Pada konsentrasi 100 µg/mL, ekspresi gen HOXA5, HOXC9, dan HOXC10 menurun, sedangkan HOXB1, yang dalam literatur dikaitkan dengan penekanan pertumbuhan tumor, meningkat. Pada uji sitometri alir, konsentrasi 50 µg/mL memberi efek paling kuat: sel hidup turun dari 91,52% pada kontrol menjadi 85,52%, sementara apoptosis awal naik dari 6,71% menjadi 12,85%. Efek ini mendekati TMZ 300 µM, yang menurunkan sel hidup menjadi 82,63% dan menaikkan apoptosis awal menjadi 15,93%. Proporsi sel nekrotik tetap rendah, sekitar 1,4-1,8%, pada semua kelompok.

Berdasarkan pola ekspresi gen tersebut, para penulis mengusulkan skema mekanisme yang melibatkan aktivasi autofagi lewat DAPK1, aktivasi gen penekan tumor TP53, serta berkurangnya penanda penekan imun seperti PD-L2, TGF-β2, dan TDO2. Skema itu merupakan penafsiran dari literatur dan belum diuji langsung dalam penelitian ini. Para penulis menyimpulkan bahwa nanokurkumin menjanjikan sebagai pendekatan terapi alternatif untuk GBM, tetapi penelitian ini hanya dilakukan pada satu lini sel secara in vitro, sehingga uji lanjutan pada model hewan dan klinis masih dibutuhkan.

Dalam ucapan terima kasih, tim peneliti menyampaikan apresiasi kepada Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center atas dukungan penyediaan bahan penelitian. Naskah menyatakan penelitian ini tidak menerima pendanaan khusus. Artikel lengkap bersifat akses terbuka dan dapat dibaca melalui DOI: https://doi.org/10.53365/nrfhh/210630.

About Aretha Medika

Check Also

Kayu Secang Diteliti sebagai Calon Bahan Pasta Gigi: Lawan Radikal Bebas dan Hambat Mikroba Penyebab Plak

Sekitar separuh penduduk dunia, atau kira-kira 3,5 miliar orang, mengalami masalah kesehatan mulut menurut laporan …

November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30