
Luka yang sulit sembuh adalah beban besar di dunia kesehatan. Menurut artikel yang dirujuk tim peneliti, luka kronis menghabiskan lebih dari US$25 miliar per tahun dalam sistem kesehatan Amerika Serikat, dan satu luka kaki diabetik saja bisa menelan biaya hampir US$50.000. Terapi konvensional seperti antimikroba, balutan, dan faktor pertumbuhan pun masih punya keterbatasan, mulai dari biaya tinggi hingga risiko resistansi bakteri. Karena itu, para peneliti mencari pendamping alami yang lebih terjangkau, dan salah satu kandidatnya adalah daun teh hijau (Camellia sinensis L.). Tim dari Universitas Kristen Maranatha dan Biomolecular and Biomedical Research Center PT Aretha Medika Utama merangkum buktinya dalam artikel ulasan berjudul Green tea leaves’ (Camellia sinensis L.) potential for wound healing: A review study, yang terbit di jurnal Natural Resources for Human Health, Volume 6 Nomor 2 (2026), halaman 545-566.
Penulis pertama artikel ini adalah Petrus Ganda Perdana dari Program Magister Skin Ageing and Aesthetic Medicine FK Maranatha. Prof. Dr. Wahyu Widowati, Guru Besar FK Universitas Kristen Maranatha sekaligus Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama, berperan sebagai penulis korespondensi. Menurut pernyataan kontribusi, beliau terlibat dalam konsep, kurasi data, interpretasi data, analisis, dan metodologi. Penulis lainnya adalah Fen Tih dari FK Maranatha, Najwa Namira dari Biomolecular and Biomedical Research Center Aretha Medika Utama, dan Firdaus Zakirin Maspar dari Universitas Negeri Jakarta. Naskah diterima pada 29 September 2025, direvisi 11 Januari 2026, disetujui 25 Januari 2026, dan tersedia daring sejak 27 Maret 2026.

Ulasan ini menyusun bukti dari empat tingkat penelitian, yaitu komputasi (in silico), sel (in vitro), hewan (in vivo), dan klinis. Senyawa kuncinya adalah katekin, terutama EGCG, yang menyumbang sekitar 50-70% dari total katekin di daun teh. Menurut kajian ini, katekin bekerja lewat beberapa jalur sekaligus. Sebagai antioksidan, ia menangkap radikal bebas dan meningkatkan enzim pelindung seperti SOD, katalase, dan glutation peroksidase melalui jalur Nrf2. Sebagai antiinflamasi, ia menekan jalur NF-κB dan COX-2. Pada bakteri, ia menghambat pertumbuhan pathogen luka seperti S. aureus, MRSA, P. aeruginosa, dan E. coli, serta mengganggu pembentukan biofilm. Ia juga dilaporkan mendorong pembentukan pembuluh darah baru dan kolagen yang dibutuhkan jaringan untuk pulih.
Pada penelitian sel, EGCG menekan pertumbuhan dan perpindahan fibroblas keloid lebih kuat daripada fibroblas normal, dengan IC50 masing-masing 54,4 µM dan 63,0 µM, yang menunjukkan potensi mengendalikan jaringan parut berlebih. Pada tikus, pemberian ekstrak teh hijau pada luka umumnya mempercepat penutupan luka, memperbaiki pembentukan epitel, dan mengurangi lebar bekas luka, baik melalui oles langsung maupun pemberian sistemik pada model diabetes. Kajian ini juga mencatat bahwa hasil pada hewan tidak selalu mengungguli terapi standar pada semua parameter, sehingga teh hijau lebih tepat dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Bukti pada manusia jauh lebih terbatas. Beberapa studi klinis meneliti kondisi kulit terkait luka, misalnya krim ekstrak teh hijau 3% selama 8 minggu pada 36 perempuan dengan striae distensae, serta uji acak pada 62 sukarelawan untuk pembentukan jaringan parut. Hasil yang dilaporkan menjanjikan, tetapi sampelnya kecil dan metodologinya beragam. Studi pada 50 orang dewasa sehat yang meminum katekin teh hijau selama tiga bulan bahkan tidak menunjukkan pengurangan bermakna pada kemerahan kulit akibat sinar UV. Penulis menyimpulkan bahwa data klinis yang berkualitas tinggi masih sangat langka.
Tantangan lain adalah stabilitas dan penyerapan. Kadar katekin dalam plasma setelah diminum hanya sekitar 0,07-0,20%, mencapai puncak dalam 1-2 jam, dan hilang dalam 5-6 jam. Komposisi ekstrak juga bervariasi tergantung daun, geografi, dan cara pengolahan. Dari sisi keamanan, sediaan oral umumnya ditoleransi baik, tetapi risiko gangguan hati dikaitkan dengan dosis tinggi (≥800 mg EGCG) atau konsumsi saat perut kosong. Untuk mengatasinya, kajian ini menyoroti kemajuan nanoformulasi, seperti hidrogel, nanopartikel, dan nanofiber, yang pada penelitian praklinis memperbaiki stabilitas dan pelepasan katekin secara bertahap.
Para penulis menyimpulkan bahwa teh hijau menjanjikan sebagai pendamping alami yang terjangkau dalam penanganan luka kompleks seperti ulkus diabetik. Namun, penerjemahan ke penggunaan klinis masih bergantung pada formulasi terstandar, sistem penghantaran yang lebih canggih, dan uji klinis acak berskala besar untuk menegaskan khasiat dan keamanannya. Dari sisi dukungan, penelitian ini didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Hibah Penelitian Tesis Magister 2025, dan tim berterima kasih kepada Biomolecular and Biomedical Research Center Aretha Medika Utama atas kontribusi materi yang dibutuhkan untuk penyelesaian penelitian.
Artikel lengkap bersifat akses terbuka dan dapat dibaca melalui DOI: https://doi.org/10.53365/nrfhh/217333.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center