Home / Publication / Kulit Menua Dirawat dengan Duet RF Microneedling dan PDO Filler: Kepadatan Kolagen Kembali Sebanding Kulit Normal pada Model Tikus

Kulit Menua Dirawat dengan Duet RF Microneedling dan PDO Filler: Kepadatan Kolagen Kembali Sebanding Kulit Normal pada Model Tikus

Seiring bertambahnya usia, kulit menipis, kolagen berkurang, dan jumlah fibroblas menurun. Stres oksidatif berperan besar dalam proses itu karena memicu radikal bebas yang merusak matriks pendukung kulit. Dua tindakan estetik yang sudah banyak dipakai untuk merangsang kolagen, yaitu radiofrequency microneedling (RFM) dan polydioxanone (PDO) filler, selama ini umumnya dinilai terpisah. Tim peneliti dari Universitas Kristen Maranatha menguji keduanya sekaligus dalam artikel berjudul Collagen Restoration from Combined Radiofrequency Microneedling and Polydioxanone Filler in Oxidative Stress-Mediated Skin Aging. Artikel ini terbit di Indonesian Biomedical Journal Volume 18 Nomor 2, April 2026, halaman 173-182.

Penulisnya adalah Ruth Agustina Sinaga dari Program Magister Skin Ageing and Aesthetic Medicine FK Maranatha, Cindra Paskaria dari Departemen Farmakologi FK Maranatha, dan Prof. Dr. Wahyu Widowati, Guru Besar FK Universitas Kristen Maranatha sekaligus Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama. Prof. Wahyu berperan sebagai penulis korespondensi. Menurut pernyataan kontribusi, beliau bersama Cindra Paskaria bertindak sebagai pembimbing, memberi arahan pada desain penelitian, membantu interpretasi data, dan merevisi naskah secara kritis. Naskah diterima jurnal pada 28 Januari 2026, direvisi 13 Maret 2026, dan disetujui terbit pada 16 Maret 2026.

Untuk meniru penuaan akibat stres oksidatif, para peneliti menyuntik tikus Sprague-Dawley betina dengan D-galaktosa 50 mg/kg berat badan setiap hari selama delapan minggu. Hewan lalu dibagi menjadi lima kelompok: kulit normal, kulit menua tanpa terapi, RFM saja, PDO filler saja, dan kombinasi RFM diikuti PDO filler. Terapi diberikan satu kali pada minggu ke-9 di bawah anestesi. RFM memakai perangkat bipolar Ellisys Sense dengan ujung 25 pin pada kedalaman 1,5 mm. PDO filler (Ultra V UltraCol 200, 10 mg/mL) disuntikkan ke lapisan tengah dermis, dan pada kelompok kombinasi disuntikkan segera setelah RFM. Jaringan kulit diambil empat minggu setelah terapi, lalu dinilai tebal dermis, kepadatan kolagen, dan jumlah fibroblas oleh pengamat yang tidak mengetahui kelompok perlakuan.

Model penuaan berhasil dibentuk. Dibanding kulit normal, kelompok menua tanpa terapi menunjukkan dermis menipis, kolagen yang jarang dan terfragmentasi, serta fibroblas yang berkurang bermakna (p < 0,001). Semua kelompok terapi memperbaiki ketiga parameter itu dibanding kelompok menua (p < 0,05). Hasil paling menonjol ada pada kepadatan kolagen. Kulit normal memiliki kepadatan kolagen sekitar 37,83%, kelompok menua hanya 7,67%, RFM saja 22,33%, PDO saja 24,09%, sedangkan kelompok kombinasi mencapai 35,22%. Angka terakhir secara statistik tidak berbeda dari kulit normal (p = 0,124) dan lebih tinggi bermakna dibanding kedua terapi tunggal. Hanya terapi kombinasi yang mencapai taraf itu.

Pada tebal dermis, kombinasi menunjukkan nilai tertinggi (764,70 µm, dibanding 585,85 µm pada kelompok menua dan 791,61 µm pada kulit normal). Jumlah fibroblas pada kelompok kombinasi juga tertinggi di antara kelompok terapi (sekitar 7.005 sel per lapang pandang, dibanding sekitar 4.202 pada kelompok menua). Namun untuk dua parameter ini, selisih antara kombinasi dan terapi tunggal tidak mencapai kemaknaan statistik, sehingga keunggulan kombinasi yang jelas hanya pada kolagen.

Para penulis menyampaikan keterbatasan penelitiannya. Penilaian hanya berdasarkan pengukuran histologi tanpa analisis molekuler, sehingga penjelasan mekanisme, yakni RFM membuka jalan dan melepas faktor pertumbuhan sementara PDO menjadi penopang struktur, masih berupa dugaan yang perlu dibuktikan. Model D-galaktosa tidak sepenuhnya menggambarkan penuaan kulit manusia. Terapi hanya diberikan satu kali dan penilaian hanya satu titik waktu, dengan jumlah sampel yang relatif kecil. Penelitian lanjutan perlu mencakup analisis molekuler, pengamatan jangka panjang, protokol terapi berulang, dan validasi klinis. Penelitian dilakukan dengan persetujuan Komite Etik Penelitian Kesehatan FK Universitas Kristen Maranatha (No. 171/KEP/VII/2025).

Tim peneliti berterima kasih kepada FK Universitas Kristen Maranatha atas fasilitas Maranatha Biomedical Research Laboratory (MBRL) dan staf laboratorium hewan, serta kepada Program Magister Skin Aging and Aesthetic Health yang mendukung penelitian ini. Tidak ada pendanaan eksternal khusus untuk penelitian ini. Artikel lengkap bersifat akses terbuka dan dapat dibaca melalui DOI: https://doi.org/10.18585/inabj.v18i2.4024.

About Aretha Medika

Check Also

Kayu Secang Diteliti sebagai Calon Bahan Pasta Gigi: Lawan Radikal Bebas dan Hambat Mikroba Penyebab Plak

Sekitar separuh penduduk dunia, atau kira-kira 3,5 miliar orang, mengalami masalah kesehatan mulut menurut laporan …

November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30