Bayangkan jika senyawa alami dari kunyit, bahan yang sering kita temui di dapur, ternyata memiliki potensi membantu melawan kanker otak. Inilah yang sedang diteliti oleh para ilmuwan melalui inovasi bernama nano kurkumin, sebuah teknologi modern yang mengubah senyawa alami menjadi lebih efektif untuk kesehatan manusia.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nano kurkumin dapat menjadi harapan baru dalam membantu terapi kanker otak, khususnya jenis yang sangat agresif bernama glioblastoma multiforme.
Mengenal Kanker Otak yang Sangat Agresif
Glioblastoma adalah jenis kanker otak yang tumbuh sangat cepat dan sulit diobati. Penyakit ini berkembang dari sel pendukung di otak dan dapat menyebar dengan cepat ke jaringan sekitarnya. Pengobatan yang ada saat ini, seperti operasi dan kemoterapi, memang dapat membantu, tetapi seringkali memiliki efek samping dan belum selalu memberikan hasil optimal.
Inilah sebabnya para peneliti di seluruh dunia, termasuk tim peneliti yang bekerja sama dengan Aretha Medika Utama, terus mencari solusi yang lebih aman dan efektif.
Kunyit Biasa Menjadi Luar Biasa dengan Teknologi Nano
Kunyit mengandung senyawa aktif bernama kurkumin, yang sudah lama dikenal memiliki manfaat kesehatan, seperti antiinflamasi dan antioksidan. Kurkumin juga memiliki kemampuan membantu menghambat pertumbuhan sel kanker.
Namun, ada satu masalah: kurkumin alami sulit diserap tubuh secara maksimal.
Melalui teknologi nano, kurkumin diubah menjadi partikel yang sangat kecil, sehingga lebih mudah masuk ke dalam sel dan bekerja lebih efektif. Bentuk inilah yang disebut nano kurkumin.
Bagaimana Nano Kurkumin Membantu Melawan Sel Kanker?
Penelitian menunjukkan bahwa nano kurkumin bekerja dengan cara yang sangat menarik, yaitu membantu tubuh melawan kanker secara alami. Nano kurkumin dapat:
- Menghambat pertumbuhan sel kanker
- Mengurangi kemampuan sel kanker untuk berkembang dan menyebar
- Membantu memicu “kematian alami” sel kanker (apoptosis)
- Mengurangi jumlah sel kanker yang hidup
Dengan kata lain, nano kurkumin membantu tubuh menghentikan sel kanker dan membersihkannya secara alami.
Mengapa Ini Penting untuk Masa Depan Pengobatan?
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa nano kurkumin menunjukkan efektivitas yang menjanjikan sebagai terapi tambahan. Ini berarti, di masa depan, nano kurkumin berpotensi digunakan bersama terapi medis lainnya untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Selain itu, karena berasal dari bahan alami, nano kurkumin juga diharapkan memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan beberapa obat kemoterapi konvensional.
Harapan Baru dari Sains untuk Kesehatan Manusia
Penelitian ini menunjukkan bahwa alam dan teknologi dapat bekerja bersama untuk menciptakan solusi kesehatan yang lebih baik. Senyawa alami seperti kurkumin, yang dikembangkan dengan teknologi modern, membuka peluang baru dalam dunia pengobatan.
Bagi masyarakat, ini menjadi kabar baik bahwa masa depan terapi kanker tidak hanya bergantung pada obat sintetis, tetapi juga pada inovasi berbasis bahan alami yang didukung oleh penelitian ilmiah.
Aretha Medika Utama terus berkomitmen untuk mendukung penelitian dan inovasi biomedis, sebagai bagian dari upaya memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat dan masa depan pengobatan yang lebih baik.(epsh)
Tim Peneliti: Wahyu WIDOWATI1 * , Ahmad FARIED2 , Diki DIKI3 , Deni RAHMAT 4 , Annisa Firdaus SUTENDI 5 , Hanna Sari Widya KUSUMA 5 , Nindia Salsabila Mia DEWI 5 , Fadhilah Haifa ZAHIROH 5 , Didik PRIYANDOKO 6 , Wahyu SURAKUSUMAH 6 , Rizal AZIS7 , Dhanar Septyawan HADIPRASETYO 8 , Rita TJOKROPRANOTO 1 , Philips ONGGOWIDJAJA1 İD İD İD
Intansi Kolaborator:
1 2 Faculty of Medicine, Maranatha Chirstian University, Bandung, Indonesia, Department of Neurosurgery, Faculty of Medicine, Padjadjaran University, Bandung, Indonesia 3 Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Indonesia 4 5 6 7 8 Faculty of Pharmacy, Universitas Pancasila, Jakarta, Indonesia Biomolecular and Biomedical Research Center, Aretha Medika Utama, Bandung, Indonesia Biology Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia Biomedical Engineering, Department of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia Faculty of Pharmacy, Jenderal Achmad Yani University, Cimahi, Indonesia
Referensi Jurnal : ttps://doi.org/10.12991/jrespharm.1694300
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center
