
Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Salah satu pemicunya adalah aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak lemak, kolesterol, dan proses peradangan kronis. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner hingga stroke.
Sebuah penelitian eksperimental menunjukkan bahwa ekstrak teh hitam (Black Tea Extract/BTE) dan quercetin memiliki potensi sebagai agen alami untuk membantu mencegah perkembangan aterosklerosis. Penelitian dilakukan menggunakan model tikus yang diberikan diet tinggi kolesterol selama 10 minggu untuk memicu pembentukan aterosklerosis, kemudian diberikan terapi ekstrak teh hitam dan quercetin selama 21 dan 42 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak teh hitam dan quercetin mampu memberikan efek hipolipidemik, antioksidan, dan proteksi pembuluh darah. Terapi ini terbukti menurunkan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), trigliserida, serta marker stres oksidatif berupa MDA. Selain itu, terjadi peningkatan kadar HDL (kolesterol baik) dan aktivitas enzim antioksidan SOD yang berperan melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
Tidak hanya memperbaiki profil biokimia, penelitian histopatologi juga menunjukkan adanya perbaikan struktur pembuluh darah pada kelompok perlakuan. Pembentukan plak aterosklerosis dan foam cell berkurang, lumen pembuluh darah tampak lebih luas, serta lapisan dinding pembuluh darah lebih terjaga dibandingkan kelompok kontrol aterosklerosis.
Efek yang dihasilkan bahkan dilaporkan sebanding dengan beberapa terapi standar seperti simvastatin, probucol, dan vitamin E. Kandungan polifenol dalam teh hitam, seperti theaflavin dan katekin, serta senyawa flavonoid quercetin diduga berperan penting dalam menekan stres oksidatif dan inflamasi yang menjadi dasar perkembangan aterosklerosis.
Temuan ini membuka peluang pengembangan bahan alam sebagai nutraceutical atau terapi pendukung untuk membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Meski demikian, penelitian lanjutan pada manusia tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya dalam penggunaan jangka panjang.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center