
Penelitian berjudul “Anti-inflammatory Effect of Mangosteen (Garcinia mangostana L.) Peel Extract and its Compounds in LPS-induced RAW264.7 Cells” telah dipublikasikan dalam jurnal Natural Product Sciences tahun 2016, Volume 22 Nomor 3, halaman 147–153. DOI: 10.20307/nps.2016.22.3.147.
Prof. Dr. Wahyu Widowati, M.Si., Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha sekaligus Staf Ahli Aretha Medika Utama, bersama tim peneliti dari Universitas Kristen Maranatha dan Biomolecular and Biomedical Research Center (BBRC) Aretha Medika Utama melakukan penelitian mengenai potensi kulit manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai agen antiinflamasi alami. Penelitian berjudul “Anti-inflammatory Effect of Mangosteen (Garcinia mangostana L.) Peel Extract and its Compounds in LPS-induced RAW264.7 Cells” tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Natural Product Sciences tahun 2016, Volume 22 Nomor 3, halaman 147–153.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya perhatian terhadap inflamasi atau peradangan yang merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi maupun cedera. Meskipun berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh, inflamasi yang berlangsung secara berlebihan dan kronis dapat berkontribusi terhadap berbagai penyakit, seperti arthritis, gangguan metabolik, hingga penyakit degeneratif. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya penelitian mengenai bahan alam yang berpotensi membantu mengendalikan proses inflamasi secara lebih aman dan efektif.
Salah satu bahan alam yang menarik perhatian peneliti adalah kulit manggis (Garcinia mangostana L.). Selama ini, kulit manggis lebih sering dianggap sebagai limbah buah, padahal bagian tersebut diketahui kaya akan senyawa aktif golongan xanthone, seperti α-mangostin dan γ-mangostin. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa senyawa tersebut memiliki aktivitas biologis, termasuk antioksidan dan antiinflamasi.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti mengevaluasi potensi ekstrak kulit manggis sebagai agen antiinflamasi alami melalui pendekatan riset biomolekuler berbasis bahan alam Indonesia.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan sel RAW 264.7 yang diinduksi lipopolysaccharide (LPS) sebagai model inflamasi di laboratorium. Pengujian dilakukan untuk melihat kemampuan ekstrak kulit manggis (GMPE), α-mangostin, dan γ-mangostin dalam menekan produksi mediator inflamasi seperti COX-2, IL-6, IL-1β, dan nitric oxide (NO).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit manggis dan senyawa aktifnya mampu menghambat produksi mediator inflamasi tersebut. Aktivitas penghambatan yang ditunjukkan menandakan bahwa senyawa bioaktif pada kulit manggis berpotensi membantu mengurangi respons peradangan melalui mekanisme penghambatan senyawa proinflamasi.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa pemanfaatan kulit manggis memiliki nilai tambah dalam pengembangan bahan alam Indonesia. Limbah kulit buah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku produk kesehatan berbasis riset dan inovasi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian lanjutan, termasuk uji praklinis dan klinis, masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaannya pada manusia.
Melalui berbagai penelitian berbasis biodiversitas lokal, Aretha Medika Utama terus mendukung pengembangan inovasi kesehatan dan riset biomolekuler Indonesia. Edukasi mengenai potensi bahan alam diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia secara lebih optimal dan berbasis ilmiah.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center