Sel punca mesenkimal dari tali pusat (umbilical cord mesenchymal stem cells/UC-MSCs) kini banyak dikembangkan untuk terapi regeneratif. Untuk dipakai dalam jumlah besar, sel-sel ini harus diperbanyak berulang kali di laboratorium. Pertanyaannya, apakah sel tetap sama seperti semula setelah berkali-kali dibiakkan? Pertanyaan itu dijawab dalam riset yang dipresentasikan Prof. Wahyu Widowati dari PT Aretha Medika Utama dalam kongres internasional ilmu kesehatan yang diselenggarakan IKSAD di Iğdır University, Türkiye, pada 25–27 September 2026. Presentasi berlangsung secara daring di Hall 4.

Penelitian ini mengkaji perubahan UC-MSCs seiring bertambahnya passage, yaitu jumlah pemindahan atau pembiakan ulang sel dalam kultur. Tim menggabungkan tiga sisi pengamatan: bentuk dan penanda permukaan sel, laju pertumbuhan, dan profil gen. Pada tahap awal (passage 4), sel tampak menempel di dasar kultur dengan bentuk memanjang seperti gelendong, ciri khas sel punca mesenkimal yang menandakan isolasi dan pembiakan berjalan baik. Dari sisi pertumbuhan, tim mengukur waktu penggandaan sel, laju penggandaan, dan tingkat penggandaan kumulatif populasi pada passage 4 hingga 8. Tingkat penggandaan kumulatif terus naik di setiap passage dan berbeda nyata antar-passage.

Bagian yang paling menarik ada di tingkat gen. Dengan menganalisis data transkriptom publik dari 30 sampel (GSE56530), tim membandingkan sel pada passage awal (P9) dan lanjut (P18) dari dua kelompok kariotipe, yaitu normal dan dengan inversi kromosom. Pada kelompok normal ditemukan 524 probe gen yang ekspresinya berubah bermakna, terdiri dari 202 naik dan 322 turun. Pada kelompok inversi ada 488 probe, dengan 383 naik dan 105 turun. Perbedaan passage menyumbang porsi besar variasi data, yakni 60,7 persen pada komponen utama analisis PCA.

Dari kedua kelompok itu, 64 probe ternyata beririsan, dan sebagian besar berubah ke arah yang sama: 38 konsisten meningkat, 19 konsisten menurun, dan hanya 7 berlawanan arah. Setelah anotasi dan penghapusan simbol gen ganda, 32 gen “penanda passage” ditampilkan dalam peta panas. Artinya, penuaan sel akibat pembiakan berulang meninggalkan jejak molekuler yang dapat dikenali, terlepas dari kariotipe selnya.
Tim juga mencatat bahwa data laboratorium mereka mencakup passage 4 sampai 8 (dengan penanda permukaan juga diperiksa pada passage 18), sedangkan data transkriptom publik membandingkan passage 9 dengan 18. Karena itu, keduanya diperlakukan sebagai data yang saling melengkapi, bukan satu rangkaian utuh. Pendekatan ini menjaga agar interpretasi tetap hati-hati sambil menggambarkan bagaimana UC-MSCs mengalami penataan ulang seiring passage.
Temuan semacam ini penting bagi pengembangan produk berbasis sel punca, karena kualitas dan konsistensi sel menentukan seberapa layak sel tersebut dipakai pada tahap lanjut. Tampilnya riset ini di forum internasional menegaskan komitmen PT Aretha Medika Utama pada penelitian biomolekuler dan biomedis yang berstandar global.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center