
PT Aretha Medika Utama menggelar kelas kuliah magang bertema penulisan proposal penelitian pada Selasa, 29 September 2026. Kelas ini diisi langsung oleh Prof. Wahyu Widowati secara daring melalui Zoom dan dihadiri para staf Aretha serta mahasiswa magang dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (UINSGD).
Prof. Wahyu membuka sesi dengan pertanyaan yang sering menjadi hambatan pertama peneliti muda: dari mana topik penelitian yang menarik dan baru itu bisa ditemukan? Menurutnya, topik yang baik berada di titik temu antara kebutuhan global dan lokal, celah penelitian, keunggulan yang dimiliki peneliti, serta kelayakan dan potensi dampaknya. Peserta diajak melewati delapan tahap, mulai dari memahami isu kesehatan global, menelusuri literatur lima tahun terakhir lewat Scopus, PubMed, dan Web of Science, hingga mengenali kekuatan diri dan sumber daya laboratorium. Ide juga bisa digali secara sistematis dengan memadukan bidang yang berbeda, misalnya produk alam dengan eksosom, atau biomaterial dengan sekretom sel punca mesenkimal. Topik yang umum seperti efek antipenuaan produk alam kemudian dipertajam menjadi pertanyaan penelitian yang spesifik dan terukur, dengan contoh apakah astaxanthin dapat menghambat senesens sel akibat paparan UV pada fibroblas kulit manusia melalui jalur NF-κB dan Nrf2.

Materi berlanjut ke jenis-jenis penelitian. Peserta diperkenalkan pada riset kualitatif yang menggali makna dan pengalaman, riset kuantitatif yang menguji hubungan dengan data numerik, serta riset evaluasi yang menilai efektivitas program, intervensi, atau kebijakan. Setiap jenis disertai contoh topik biomedis dan kesehatan, mulai dari efek ekstrak tanaman terhadap penyembuhan luka pada mencit hingga evaluasi produk suplemen herbal baru, sehingga peserta dapat menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan pertanyaan penelitiannya.
Inti kelas adalah panduan sepuluh langkah menyusun proposal agar layak didanai atau disetujui. Prof. Wahyu menekankan pentingnya membaca skema pendanaan dengan teliti, merumuskan ide yang novel, relevan, dan layak, serta menyiapkan studi pendahuluan dan tinjauan pustaka yang mutakhir. Peserta juga diajarkan menyusun setiap bagian proposal, mulai dari judul, latar belakang, tujuan, metode, luaran, anggaran, hingga jadwal kerja, menonjolkan dampak dan relevansi penelitian, menyusun anggaran yang realistis, mengelola risiko, melengkapi dokumen pendukung seperti persetujuan etik dan surat dukungan kolaborator, lalu merevisi dan mengirim sebelum tenggat. Prof. Wahyu turut membagikan alasan umum proposal ditolak, antara lain tidak selaras dengan prioritas pemberi dana, kebaruan yang kurang, data pendahuluan yang minim, serta anggaran dan metodologi yang tidak realistis.

Sesi dilanjutkan dengan penulisan naskah ilmiah. Peserta mempelajari struktur dasar naskah yang terdiri dari judul, abstrak sepanjang sekitar 200–300 kata dengan 3–6 kata kunci, pendahuluan, isi utama berupa metode, hasil, dan pembahasan, kesimpulan, serta daftar pustaka. Prof. Wahyu juga menjelaskan empat tipe judul artikel (berbentuk pertanyaan, pernyataan informatif, indikatif, dan berbasis metode), beserta kebiasaan yang sebaiknya dihindari, seperti kata-kata sensasional, singkatan yang tidak lazim, dan judul yang terlalu panjang. Materi penutup membahas optimasi mesin pencari (SEO) untuk artikel ilmiah, yaitu cara memilih kata kunci standar, menempatkannya di judul, abstrak, dan subjudul secara wajar, serta mengutip karya sebelumnya agar artikel lebih mudah ditemukan, dibaca, dan dikutip.

Kelas kuliah magang ini menjadi bagian dari upaya PT Aretha Medika Utama membekali generasi muda peneliti dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia riset, dari menemukan topik hingga mempublikasikan hasil penelitian. Aretha membuka ruang belajar bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berproses bersama para peneliti yang berpengalaman.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center