Home / Activites / Prof. Wahyu Widowati dan Tim Terbitkan Riset Nanosilver Kulit Manggis sebagai Agen Pencegah Karies di Avicenna Journal of Medical Biotechnology

Prof. Wahyu Widowati dan Tim Terbitkan Riset Nanosilver Kulit Manggis sebagai Agen Pencegah Karies di Avicenna Journal of Medical Biotechnology

Karies gigi pada anak masih sangat tinggi di Indonesia. Artikel yang dikutip tim peneliti menyebut 92,6% anak usia 5-9 tahun mengalaminya. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus mutans, yang menghasilkan asam organik dan mengikis lapisan mineral email gigi. Riset yang melibatkan Prof. Wahyu Widowati, Dosen FK-UKM (Guru Besar) sekaligus Tenaga Ahli PT Aretha Medika Utama, mencoba menjawab masalah itu dengan memanfaatkan kulit buah manggis. Hasilnya diterbitkan dalam artikel berjudul Nanosilver from Mangosteen Peel Extract (Garcinia mangostana L.) for Antibacterial Dental Preventive Agents di Avicenna Journal of Medical Biotechnology, Volume 17 Nomor 4, Oktober-Desember 2025, halaman 277-285.

Penulis korespondensi artikel ini adalah Vinna Kurniawati Sugiaman, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Kristen Maranatha. Penulis lainnya adalah Rosalina Intan Saputri, Jeffrey Jeffrey, Prof. Wahyu Widowati, Mariska Elisabeth, Vini Ayuni, dan Dhanar Septyawan Hadiprasetyo, dari Maranatha, Universitas Jenderal Achmad Yani, dan Biomolecular and Biomedical Research Center PT Aretha Medika Utama. Naskah diterima jurnal pada 23 Januari 2025 dan disetujui terbit pada 30 Agustus 2025.

Latar belakangnya begini. Antibiotik memang bisa menekan bakteri mulut, tetapi pemakaiannya dikaitkan dengan resistansi dan efek samping seperti perubahan warna gigi. Kulit manggis dikenal kaya senyawa bioaktif, dan penelitian ini menggabungkannya dengan nanosilver supaya penghantarannya lebih baik. Selama ini nanosilver umumnya dibuat dengan reduksi kimia memakai bahan seperti natrium borohidrida, yang mahal dan berisiko mencemari lingkungan. Pendekatan ini berbeda karena ekstrak kulit manggis dipakai sebagai bahan pereduksi sekaligus penstabil dalam sintesis hijau (green synthesis) nanosilver. Penulis mencatat belum banyak laporan yang meneliti nanosilver dari ekstrak ini untuk masalah gigi.

Ekstrak kulit manggis (MPE) dibuat oleh PT FAST di Depok dengan cara maserasi memakai air deionisasi dan berstandar BPOM. Skrining fitokimia menunjukkan kandungan flavonoid dan fenol yang sangat tinggi, disusul saponin, tanin, terpenoid, dan alkaloid dalam kadar tinggi, serta triterpenoid dalam kadar sedang. Steroid tidak terdeteksi. Untuk membuat nanosilver (MPNs), ekstrak dicampur dengan larutan perak nitrat 1 mM dengan perbandingan 1:9, lalu diaduk pada 250 rpm selama 30 menit pada suhu 60, 70, dan 80°C. Ukuran partikel rata-rata yang terukur 126,1 nm dengan polydispersity index 0,419. Di bawah mikroskop elektron transmisi (TEM), partikel berbentuk bulat. Gambar TEM diambil di laboratorium luar karena fasilitas tersebut tidak tersedia di laboratorium penelitian, dan penulis menyebut kualitas gambarnya mungkin kurang optimal.

Pengujian antibakteri terhadap S. mutans (ATCC 25175) dilakukan dengan metode difusi cakram. Pada konsentrasi MPNs 100%, zona hambat mencapai 16,37 mm, sedangkan pada konsentrasi terendah (3,125%) hanya 2,52 mm, sehingga daya hambat naik seiring konsentrasi. Konsentrasi hambat minimum (MIC) tercatat pada MPNs 25%, dan konsentrasi bunuh minimum (MBC) pada 100% dengan nilai daya hambat 119,37%. Jumlah koloni mendukung pola itu, turun dari sekitar 230,67×10⁴ CFU/mL pada konsentrasi 3,125% menjadi 54,67×10⁴ CFU/mL pada 100%. Untuk uji antibiofilm, penghambatan pembentukan biofilm berkisar 27,64% hingga 105,94% dan juga bergantung pada konsentrasi. Angka di atas 100% terjadi karena pembacaan kerapatan optik sampel perlakuan lebih rendah dari kontrol, dan penulis menjelaskan hal ini mencerminkan hambatan biofilm yang sangat kuat.

Dalam pembahasannya, penulis menghubungkan hasil ini dengan senyawa xanton di kulit manggis, seperti α-mangostin dan γ-mangostin, yang bersifat amfifilik dan dapat mengganggu membran sel bakteri. Ion perak juga dapat merusak membran dan DNA bakteri serta memicu stres oksidatif lewat spesies oksigen reaktif. Menurut penulis, sintesis hijau juga lebih murah, tidak memerlukan bahan kimia beracun, dan dapat dilakukan dengan langkah yang lebih sederhana dibanding sintesis kimia.

Keterbatasan penelitian ini dijelaskan terbuka dalam artikel. Penelitian belum diuji pada manusia, dan ukuran partikelnya belum seragam. Uji antibakteri hanya mencakup S. mutans, tanpa bakteri mulut lain yang berperan dalam infeksi polimikroba. Sitotoksisitas terhadap sel mulut manusia belum dievaluasi, begitu pula stabilitas formulasi. Penulis juga mengingatkan bahwa toksisitas nanopartikel perak diketahui bergantung pada ukuran partikel. Karena itu, langkah berikutnya mencakup uji sitokompatibilitas pada lini sel yang relevan, uji stabilitas, perluasan spektrum mikroba, dan optimasi sintesis agar ukuran partikel lebih seragam.

Penelitian ini didanai Universitas Kristen Maranatha melalui skema pendanaan internal luaran Scopus tanpa kemitraan. Tim peneliti juga berterima kasih kepada PT FAST atas penyediaan MPE dan kepada tim AMUBBRC Aretha Medika Utama atas fasilitas dan dukungan penelitian. Artikel lengkap dapat dibaca di https://doi.org/10.18502/ajmb.v17i4.20073.

About Aretha Medika

Check Also

Kunjungan Prof. Wahyu Widowati bersama PT Aretha Medika Utama ke Pabrik CPOTB PT Pajajaran Herba Indonesia, Bandung

Dua hari setelah pertemuan penjajakan kerja sama di Aretha, giliran tim PT Aretha Medika Utama …

October 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031