
Bandung – Luka di rongga mulut seperti sariawan atau bekas tindakan gigi umumnya sembuh lebih cepat daripada luka di kulit. Namun pada sebagian pasien, terutama yang punya penyakit sistemik, luka mulut bisa lama sembuh. PT Aretha Medika Utama, melalui Biomolecular and Biomedical Research Center, menjawab tantangan ini lewat inovasi Oral Patch berbahan teh hijau dan mint. Riset tersebut dipresentasikan dalam kongres internasional ilmu kesehatan yang diselenggarakan IKSAD di Iğdır University, Türkiye, pada 25–27 September 2026.
Penelitian berjudul “Evaluation of an Oral Patch on Cell Migration and VEGFA and MMP-2 Expression in a Fibroblast Scratch-Wound Model” ini dikerjakan tim peneliti Aretha Medika Utama bersama Prof. Wahyu Widowati. Hasilnya menunjukkan Oral Patch mampu mendorong sel fibroblas menutup “luka” buatan hingga 92,30 persen hanya dalam 48 jam.

Oral Patch ini berupa film tipis yang dibuat dengan metode solvent casting. Ekstrak teh hijau yang kaya katekin dan ekstrak mint dipadukan dengan polimer pembentuk film yang menempel pada mukosa mulut. Lapisan penahan dari etil selulosa membantu mengatur pelepasan bahan aktif dan mengurangi risiko terbilas air liur. Rancangan ini ditujukan sebagai platform penghantaran obat lokal langsung ke area luka di rongga mulut.
Untuk mengujinya, tim memakai sel fibroblas BJ, sel pembangun jaringan yang berperan besar dalam penyembuhan luka. Lapisan sel digores dengan ujung pipet untuk meniru luka, lalu diberi ekstrak Oral Patch pada tiga konsentrasi. Tanpa perlakuan, sel hanya menutup sekitar 5,8 persen celah goresan dalam 24 jam. Dengan ekstrak Oral Patch 100 µg/mL, angkanya melonjak menjadi 69,13 persen pada jam ke-24 dan 92,30 persen pada jam ke-48, saat celah itu nyaris tertutup sempurna. Kelompok kontrol hanya mencapai sekitar 12 persen pada waktu yang sama, dan semakin tinggi dosis, semakin cepat sel bergerak.
Soal keamanan, uji sitotoksisitas menunjukkan viabilitas sel berkisar 78,99 hingga 100,75 persen di seluruh rentang konsentrasi yang diuji (1,56–100 µg/mL), di atas ambang 70 persen yang menjadi acuan standar ISO 10993-5. Pengamatan mikroskopis juga memperlihatkan sel tetap sehat, tanpa tanda membulat atau terlepas dari dasar kultur.

Tim juga menelusuri mekanisme kerjanya di tingkat molekuler lewat dua gen penting. VEGFA berperan mendukung pembentukan pembuluh darah baru dan pergerakan fibroblas, sedangkan MMP-2 adalah enzim yang “membersihkan jalan” di matriks jaringan agar sel dapat bergerak maju. Cedera goresan menurunkan ekspresi kedua gen ini hingga sekitar 0,4 kali kondisi normal. Pemberian Oral Patch menaikkannya secara bertahap sesuai dosis. Pada 100 µg/mL, ekspresi VEGFA mencapai 0,83 kali normal dan secara statistik tidak berbeda dari sel sehat, sedangkan MMP-2 mencapai 0,86 kali normal. Pola ini sejalan dengan peningkatan migrasi sel.
Meski menjanjikan, hasil ini masih tahap awal karena dilakukan in vitro pada satu jenis sel dan baru mengukur ekspresi gen, belum kadar proteinnya. Tahap berikutnya mencakup uji migrasi dengan metode transwell, pengukuran protein melalui ELISA, Western blot, dan zimografi MMP-2, pengujian pada fibroblas primer dari mulut, hingga model in vivo dan klinis.
Bagi PT Aretha Medika Utama, tampilnya Oral Patch di forum internasional ini menegaskan komitmen perusahaan mengembangkan inovasi biomedis berbasis bahan alam, dari laboratorium di Bandung hingga ke panggung ilmiah dunia.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center