
Bandung – Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif yang paling umum dan salah satu penyebab utama disabilitas pada lansia. Obat yang ada saat ini, seperti NSAID dan suntikan kortikosteroid, umumnya hanya meredakan gejala dan penggunaan jangka panjangnya membawa risiko bagi lambung, ginjal, dan jantung. Inilah celah yang coba diisi PT Aretha Medika Utama lewat Osteolift, formulasi multikomponen berbahan alam yang hasil risetnya dipresentasikan dalam kongres internasional ilmu kesehatan yang diselenggarakan IKSAD di Iğdır University, Türkiye, pada 25–27 September 2026.
Penelitian berjudul “Evaluation of a Multicomponent Formulation for Attenuating Inflammation and Cartilage Degeneration in Osteoarthritis” ini dilakukan di Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center bersama Prof. Wahyu Widowati. Osteolift memadukan tiga bahan botani, yaitu Detam black soybean (Glycine max), hidrolisat protein green pea (Pisum sativum), dan Centella asiatica, ditambah bahan pendukung seperti methylsulfonylmethane, kolagen tipe II, asam hialuronat, omega-3, astaxanthin, glutathione, dan vitamin C. Ketiga bahan utamanya sebelumnya dilaporkan menekan jalur peradangan NF-κB dan IL-6.

Untuk mengujinya, tim memakai model tikus Sprague-Dawley yang kerusakan sendi lututnya dipicu suntikan monosodium iodoacetate (MIA). Tikus diberi Osteolift secara oral setiap hari selama 28 hari pada tiga dosis, dan hasilnya dibandingkan dengan kelompok sehat, kelompok OA tanpa terapi, serta kelompok yang diberi glukosamin sebagai pembanding. Tim menilai efeknya dari tiga sisi sekaligus: gambaran jaringan di bawah mikroskop, protein penanda peradangan, dan ekspresi gen.
Hasilnya paling menonjol pada dosis tertinggi (34,42 mg/kg berat badan per hari). Pada tikus OA tanpa terapi, permukaan tulang rawan tampak retak dan terkikis dengan sel-sel kondrosit yang rusak. Pada tikus yang diberi dosis tertinggi Osteolift, permukaan tulang rawan kembali nyaris mulus dan tertata, mirip kondisi normal. Skor kerusakan OA turun 93 persen, sementara tebal tulang rawan hialin naik 84 persen, dari 75,7 menjadi 139,3 mikrometer, dan secara statistik tidak berbeda dari tulang rawan sehat.
Di tingkat molekuler, ekspresi gen TLR4 yang memicu peradangan turun dari 5,11 kali menjadi 1,49 kali kondisi normal, atau berkurang sekitar 71 persen. Gen IL6 turun 66 persen (4,45 menjadi 1,52 kali), dan gen MMP3, enzim yang menggerogoti kolagen dan proteoglikan tulang rawan, turun 68 persen (4,51 menjadi 1,44 kali). Protein penanda peradangan NF-κB berkurang dari 51,9 persen menjadi 26,4 persen sel positif, sedangkan COL1A1, penanda tulang rawan yang mulai kehilangan sifat aslinya, turun 76 persen. Tim melihat pola yang konsisten: semakin tinggi dosis, semakin mendekati normal. Dibandingkan glukosamin, Osteolift dosis tertinggi secara statistik setara pada semua parameter dan secara angka lebih baik pada seluruhnya.

Temuan ini menunjukkan Osteolift bekerja pada rantai peradangan TLR4/NF-κB–IL6/MMP3 sambil menjaga karakter tulang rawan hialin. Namun tim peneliti menegaskan bahwa hasil ini masih tahap praklinis. Jumlah hewan per kelompok masih kecil, masa pengamatan hanya 28 hari, dan model yang dipakai adalah OA akibat bahan kimia. Langkah berikutnya mencakup sampel yang lebih besar dengan masa terapi lebih panjang, penanda khusus tulang rawan hialin seperti COL2A1 dan SOX9, uji fungsi dan nyeri, serta optimasi dosis menuju uji translasi.
Penelitian ini didukung pendanaan dari program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, serta fasilitas laboratorium PT Aretha Medika Utama. Tampilnya Osteolift di forum internasional ini menegaskan komitmen perusahaan mengembangkan inovasi kesehatan berbasis bahan alam dari laboratorium di Bandung untuk menjawab tantangan penyakit degeneratif.
Aretha Medika Utama Biomolecular and Biomedical Research Center